Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) kali ini menjadi momen penting bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memantik kesadaran baru di kalangan periset. Kepala BRIN mengajak seluruh elemen riset di Indonesia untuk membebaskan diri dari dominasi epistemik Barat, yaitu cara pandang atau paradigma yang seringkali mendikte irama riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di tanah air. Upaya ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan global dan membangun daya saing Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemandirian Epistemik dalam Ilmu Pengetahuan
Pergeseran paradigma dalam riset harus segera diinisiasi agar Indonesia bisa mengukuhkan identitasnya di panggung internasional. Kemandirian epistemik berarti mampu merumuskan dan menentukan arah riset yang selaras dengan kebutuhan dan tantangan lokal. Dengan demikian, riset tidak lagi sekadar meniru atau mengikuti tren dari negara-negara maju, tetapi benar-benar dijiwai oleh konteks Indonesia sendiri. Dengan mengaplikasikan pendekatan berbasis lokal, riset Indonesia bisa menawarkan solusi yang lebih relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tantangan Lepas dari Dominasi Barat
Perjalanan menuju kebangkitan epistemik ini tentu bukan tanpa hambatan. Dominasi pengetahuan Barat sangat kuat mengakar, mempengaruhi banyak aspek mulai dari metodologi, kurikulum pendidikan, hingga pendanaan riset. Banyak peneliti merasa terikat oleh ‘kiblat’ akademik Barat yang sering dipandang sebagai standar emas. Untuk mengatasi hal ini, penting adanya kerjasama dan kolaborasi lintas lembaga dan disiplin untuk menciptakan ekosistem riset yang mendukung kemandirian dan inovasi.
Membangun Ekosistem Riset yang Inklusif
BRIN memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan terbentuknya ekosistem riset yang inklusif dan kolaboratif. Hal ini harus dimulai dengan pembaruan kebijakan yang lebih mendukung ide-ide lokal serta pengetahuan tradisional yang kerap kali terabaikan. Dukungan pemerintah dan stakeholder lain sangat penting untuk mengentaskan penelitian yang kontributif serta mengedepankan keberlanjutan. Dengan demikian, Indonesia dapat merancang langkah yang lebih mandiri dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pentingnya Kolaborasi Internasional dan Lokal
Meskipun berupaya lepas dari dominasi epistemik Barat, bukan berarti menutup diri dari kolaborasi internasional. Sebaliknya, Indonesia bisa menjadi pionir dalam menjalin kemitraan setara yang saling menguntungkan. Kolaborasi dengan peneliti dari seluruh dunia tetap diperlukan untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkenalkan perspektif dan inovasi dari Indonesia. Di sisi lain, membangun kolaborasi di antara institusi lokal akan memperkuat basis riset nasional.
Pandangan Baru Terhadap Inovasi
Untuk benar-benar memetik hasil dari kebangkitan ini, perlu ada transformasi pandangan dasar mengenai inovasi. Inovasi harus dilihat bukan hanya sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses yang dinamis dan berkesinambungan. Ini berarti berfokus pada pengetahuan lokal, mempercayai kemampuan bangsa sendiri, serta berani berbicara dan menunjukkan apa yang kita miliki di kancah global. Inovasi berbasis lokal inilah yang dapat memperkuat daya saing serta memberikan dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Kesimpulan: Menuju Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Indonesia
Momentum Harkitnas ini perlu dimanfaatkan untuk merefleksikan dan merumuskan ulang arah riset nasional. Mendetoksifikasi diri dari dominasi epistemik Barat adalah langkah strategis untuk mewujudkan riset yang lebih berdikari dan berdaya guna bagi Indonesia. Dengan membangun ekosistem riset yang lebih inklusif dan kolaboratif, serta mengedepankan inovasi berbasis lokal, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam lanskap ilmu pengetahuan global. Kini saatnya bergerak maju dengan mengenali potensi serta kekuatan yang ada dalam negeri, demi kebangkitan dan kemajuan ilmu pengetahuan nasional.
