Buku akademik terbaru yang mengangkat tema diplomasi olahraga menghadirkan pembahasan mendalam soal relevansi Sukan Komanwel di tengah dinamika politik dan arena olahraga modern. Kehadiran karya ini menegaskan berkembangnya minat akademis terhadap cara olahraga dipakai sebagai instrumen hubungan internasional.

Routledge Handbook of Sports Diplomacy, yang diluncurkan pada 13 Agustus 2026, menyusun kontribusi dari beberapa pakar internasional dan menyajikan kajian kasus serta analisis teori yang komprehensif tentang bagaimana negara, organisasi, atlet, dan LSM memanfaatkan olahraga dalam kebijakan luar negeri dan diplomasi publik.
Buku panduan komprehensif tentang diplomasi olahraga
Buku panduan ini terdiri dari 32 bab dengan total 412 halaman dan disusun oleh sekelompok penyunting yang berpengalaman di bidang diplomasi dan hubungan internasional. Di editor bersama tercantum Dr. J. Simon Rofe, Dr. Lindsay Krasnoff, Dr. Thierry Zintz, dan Dr. Richard Parrish. Selain itu, wartawan dan editor asal Malaysia, Haresh Deol, terlibat sebagai editor bersama serta penulis salah satu bab.
Rangkuman bab-bab di dalam buku ini memetakan peran aktor berbeda seperti negara, atlet, badan internasional, organisasi non-pemerintah, serta badan pengelola olahraga di tingkat nasional, regional, dan internasional. Penyajian termasuk studi kasus untuk memperjelas aplikasi diplomasi olahraga, memberi pembaca landasan empiris dan konseptual terkait praktik-praktik tersebut.
Perhatian khusus pada Sukan Komanwel dan studi kasus global
Salah satu bab yang mendapat sorotan ditulis oleh Haresh Deol dengan judul ‘Commonwealth Games – Losing Glory: The Fallacy of Sports Diplomacy?’. Dalam tulisan itu, penulis mempertanyakan apakah Sukan Komanwel masih menyimpan daya politik dan relevansi dalam lanskap olahraga saat ini, serta menelaah tantangan yang dihadapi kompetisi tersebut dalam mempertahankan pengaruhnya.
Selain pembahasan tentang Sukan Komanwel, buku ini juga memuat bab-bab yang menelaah peristiwa besar seperti Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar dan Sukan Olimpik 2024 di Paris. Pendekatan berbasis studi kasus ini bertujuan memberikan gambaran konkret tentang bagaimana negara tuan rumah, federasi internasional, dan aktor lain berinteraksi untuk membentuk narasi diplomatik melalui penyelenggaraan acara olahraga besar.
Peran penulis dan konteks penerbitan
Haresh Deol, yang memiliki pengalaman hampir tiga dekade di dunia kewartawanan dan juga tercatat sebagai salah satu pendiri serta editor portal berita Twentytwo13, menjadi satu-satunya editor dari Asia dalam proyek ini. Keterlibatannya dipandang sebagai pengakuan atas keahliannya di bidang diplomasi olahraga dan kontribusinya terhadap wacana pengintegrasian olahraga dalam kebijakan nasional dan luar negeri Malaysia.
Penerbit global Routledge merilis buku ini dalam dua format. Versi cetak hardcover dipasarkan dengan harga £196.00 (RM1,146), sementara versi elektronik tersedia dengan harga £38.24 (RM223). Buku ini mulai dijual dan didistribusikan ke seluruh dunia pada 13 Agustus 2026.
Dengan kombinasi kerangka teoretis dan studi kasus empiris, buku ini menawarkan sumber referensi penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, pejabat olahraga, serta pihak lain yang tertarik memahami bagaimana olahraga berfungsi sebagai alat diplomasi dan pengaruh global. Pembahasan tentang Sukan Komanwel menambah dimensi kritis terhadap diskusi mengenai efektivitas olahraga dalam mencapai tujuan politik dan diplomatik di era konrer.
