Malaysia berjanji terus berperan sebagai jambatan dialog ilmu dan menjadi pusat kecemerlangan dalam pendidikan tinggi, ujar Menteri Pendidikan Tinggi Datuk Seri Zambry Abdul Kadir. Pernyataan itu disampaikan menyusul partisipasi negara pada Persidangan Pemikiran dan Tamadun Islam (WCIT 2026) ke-8, yang dianggap sebagai ruang penting bertukar gagasan dan memperkuat jaringan internasional.

Zambry menyatakan harapan agar forum tiga hari tersebut menghasilkan idea serta solusi yang memberi manfaat luas bagi umat dan masyarakat global. Dia juga menyinggung pentingnya membangun masa depan umat berdasarkan ilmu, penelitian, inovasi, kepemimpinan berintegritas, dan institusi pendidikan tinggi yang kompetitif.
Peran Malaysia di panggung WCIT 2026
Menurut Zambry, WCIT 2026 menjadi platform penghubung antarpendapat dan titik temu bagi kerjasama lintas negara. Di acara terkait, beliau menghadiri majlis jamuan malam yang diselenggarakan Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) di Ipoh, yang mengumpulkan lebih 180 delegasi termasuk sarjana, peneliti, dan pemikir dari berbagai negara.
Dalam catatan yang dibagikan melalui posting di laman sosial, Zambry menulis: “Malam tadi saya pulang ke Ipoh bagi menghadiri Majlis Makan Malam sempena WCIT2026 anjuran Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) yang menghimpunkan lebih 180 delegasi, sarjana, penyelidik dan pemikir dari pelbagai negara.” Kehadiran delegasi internasional tersebut, menurutnya, memperlihatkan komitmen kolektif untuk memperkuat wacana ilmu serta memperkasa pemikiran Islam menghadapi tantangan zaman.
Pesan tentang pendidikan dan warisan peradaban
Zambry menekankan bahwa dunia Islam tidak cukup berpegang pada kenangan kejayaan lampau. Ia mengajak membangun masa depan yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kajian akademis, dan etika kepemimpinan. Sejalan dengan itu, ia menyatakan pentingnya institusi pendidikan tinggi yang mampu bersaing di kancah global.
Dalam sambutannya, Zambry mengutip pengalaman sejarah sebagai peringatan: “Dengan mengambil iktibar daripada sejarah seperti kemusnahan Baghdad, Granada, Sarajevo dan konflik semasa di Palestin, ucapan ini mengingatkan bahawa apabila universiti dan perpustakaan dimusnahkan, yang hilang bukan sekadar bangunan tetapi masa depan sesebuah tamadun,” katanya.
Ia juga menggarisbawahi nilai universal ilmu yang merentasi batas-batas politik dan konflik: “Pendidikan mesti kekal melangkaui sempadan politik, konflik dan teknologi kerana ilmu ialah warisan bersama seluruh umat manusia, bukan milik mana-mana negara atau tamadun.” Pernyataan itu menunjuk pada perlunya menjaga dan memperkuat institusi ilmiah agar tidak menjadi korban kerusakan yang mengancam kelangsungan peradaban.
Harapan pada hasil persidangan
WCIT 2026, yang berlangsung selama tiga hari, diharapkan mampu melahirkan resolusi dan gagasan baru yang konstruktif. Zambry berharap forum tersebut berjalan lancar dan mampu menghasilkan rekomendasi yang berkontribusi pada kemajuan dunia Islam sekaligus kesejahteraan global.
Dalam konteks ini, peran Malaysia disebut sebagai jembatan—menghubungkan beragam pemikiran dan membina kemitraan strategis yang dapat memperkuat ekosistem ilmu yang inklusif serta berpijak pada nilai. Pendekatan seperti itu dinilai penting untuk mengatasi tantangan konrer dan memastikan pendidikan tinggi tetap relevan dan berdaya saing.
Dengan fokus pada kolaborasi internasional, penelitian, dan inovasi, pemerintah melalui kementerian terkait diharapkan terus mendukung upaya memperkuat kapasitas akademik dan jaringan ilmiah. Langkah-langkah tersebut diharapkan memperkokoh posisi institusi pendidikan tinggi Malaysia sebagai pusat kecemerlangan yang mampu berkontribusi pada pemikiran dan solusi global.
Persidangan WCIT 2026 memberi kesempatan bagi pemikir, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk berdialog, bertukar ide, dan merancang inisiatif bersama. Hasil dari pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi langkah-langkah nyata yang memajukan ilmu pengetahuan serta kesejahteraan umat secara lebih luas.
